Tampilkan postingan dengan label personal stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label personal stories. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Februari 2018

tigabelas januari

mungkin ini akan menjadi post pertama saya yang sedikit memalukan di awal tahun  duaribudelapanbelas.
saya lelah akan banyak hal akhir akhir ini. kepala saya begitu penuh
mungkin beberapa bulan terakhir adalah titik terberat saya dalam menghadapi musuh bebuyutan saya. Hati
saya mengakui banyak hal akan segala minus dalam diri saya. manja, tak dewasa, egois, arogan, aku-sentris, cuek, tak peduli dengan sekitar, dan masih banyak lagi keburukan dalam diri saya
hingga pada akhirnya, Tuhan mengirimkan salah satu guru hidup yang ditugaskan untuk menggembleng saya yang buruk ini.
ini mungkin salah satu hal berat dalam hidup saya, ketika karakter saya, pondasi saya diobrak abrik, di dekonstruksi, dihancurkan. dan ini melelahkan
awalnya saya amat sangat menerima apapun hal baik yang guru saya ajarkan meskipun itu berat. saya tahu ini semua demi kebaikan saya. saya sadar saya tak selamanya bergantung pada orang lain. saya sadar saya harus mulai peduli pada orang sekitar dan memikirkan masa depan. saya tak selamanya muda.
saya melihat guru saya dan saya melihat rumah
hingga pada suatu sore saat dia bercerita tentang seseorang dari masa lalunya. dengan matanya yang berkaca kaca dia bercerita dan bercerita. saya bisa melihat ada cinta yang dalam di sana. saya bisa merasakan kepedihan karena tak bisa bersatu dengan perempuan itu.
detik itu pula saya sadar bahwa saya hanya mesin. saya sadar bahwa bagi dia saya hanya mesin rakitan yang dibuat untuk memenuhi program yang dia buat. karena entah kenapa ada bagian dalam diri saya yang berkata bahwa tidak ada tempat untuk saya disana. tidak ada tempat untuk saya.
segera saya ingin hengkang, menenteng sepatu dan ransel. melanjutkan petualangan saya yang lainnya. saya tak mau terus berlama lama disitu. saya tak mau jadi mesin rakitan. saya punya hak atas hidup saya sendiri.
dipegangnya tangan saya sekali lagi, ditatapnya lagi mata saya. diucapkan lagi mantra mantra yang dianggap bisa membuat saya percaya sekali lagi.
saya berhenti sejenak, saya melihat berapa banyak langkah yang sudah saya ambil, halhal apa yang sudah kami lakukan, rencanarencana apa yang sudah kami bangun.
saya menghela nafas panjang. saya terlalu egois (lagi)
ini sekali lagi bukan tentang saya, tentang dia atau tentang siapapun mereka. ini tentang generasi generasi setelah saya. ini akan menjadi salah satu pengorbanan terbesar saya
saya mungkin tidak akan pernah percaya dia lagi. tapi saya akan coba mempertahankan ini, lagi dan lagi
saya tak lagi melihat diri saya di cermin, atau dirinya, atau orang lainnya. di cermin itu hanya ada refleksi senyum senyum manis anakanak kecil, sorot mata mereka yang cerdas, melalui mata mereka saya tahu. mereka menyayangi saya.
dan saya menyayangi mereka. sudah itu saja

-soe

Minggu, 04 Desember 2016

lima desember

menyedihkan
post pertama saya di bulan desember tepat pada tanggal lima.
kebetulan lima desember tahun ini pun tepat pada hari senin
senin 5 desember
sempurna,
amat sangat sempurna untuk menitikkan air mata.

saya hanya bisa berharap
semoga Tuhan tidak bosan mendengarkan ratapan maaf saya karena berkali kali saya menitikkan air mata bodoh dan tak berguna

sedikit throwback,
lima tahun yang lalu.....

Senin, 26 September 2016

dua puluh enam september

dua atau tiga bulan lebih saya tidak menulis di sini.
bukan karena saya kurang inspirasi
tapi jujur saya sedang fokus mempersiapkan diri
mempersiapkan untuk apa? itupun masih teka teki
karena saya pun tak pernah tahu untuk apa persiapan ini.

akhir akhir ini saya suka sekali membaca suatu hal yang berhubungan sengan sufi dan tasawuf,
well, mungkin terdengar aneh. karena makhluk super duper sekuler macam saya sedang gandrung dengan hal hal yang berhubungan dengan penyucian jiwa dan mendekatkan diri pada Tuhan.
saya pun sedang gandrung dengan buku buku filsafat jawa dan kisah kisah wayang. bahkan saya sangat cinta musik tradisionalnya juga. tapi sesungguhnya saya sudah menyukai hal hal tersebut sebelumnya. namun entah kenapa akhir akhir ini saya lebih sering mendalami hal hal tersebut.
mungkinkah saya sudah bosan?
mungkinkah Tuhan sedang mentraining saya?
untuk apa saya tertarik akan hal hal tersebut?
lagi lagi teka teki

lil bit flashback (kalian boleh skip bagian ini jika tidak ingin membaca cerita saya yang sedikit membosankan)
dulu, bagi saya duniawi adalah sumber kebahagiaan.
keluarga, teman, pekerjaan, sebuah hubungan, materi
saya dibesarkan oleh sebuah keluarga besar yang sangat menyayangi saya. bisa dikatakan saya tak pernah kekurangan kasih sayang. ketika saya sedih, terpuruk dan menghadai masalah sebesar apapun saya selalu tenang. karena bagi saya rumah dan keluarga adalah tempat terbaik untuk pulang.
tapi memiliki keluarga yang sangat baik dan penyayang sedikit banyak membentuk karakter saya yang bisa dibilang agak sedikit buruk.
pertama, saya sangat susah percaya pada orang lain selain keluarga
kedua, saya terlalu berlebihan dalam mengagungkan keluarga saya
ketiga, saya terlalu bergantung dan menjadikan keluarga sebagai poros hidup saya, sebagai sumbu, pilar, tempat bersandar.
dan beberapa ke ke yang lainnya.
begitupun dengan teman, pekerjaan , materi. semuanya sama, saya terlalu menganggap mereka semua sebagai pilar hidup saya.
dan hingga saatnya tiba, Tuhan menghancurkan pilar pilar saya. menohok kesombongan saya. menghancurkan apa yang saya percaya.
cara Tuhan mengingatkan saya tidak dengan cara yang instan, tak makan waktu setahun dua tahun. tapi beberapa tahun.
mungkin bagi kalian yang mengenal saya, tahu bahwa awal kehancuran pilar kepercayaan saya adalah saat bapak saya dipanggil oleh Tuhan.
setelah beliau pergi, satu persatu pilar yang saya banggakan dihancurkan oleh Tuhan.
saya sering merasa sendirian, kesepian, semua pintu di sekeliling saya seakan akan tertutup, pundak saya terasa sangat berat, menangispun saya tak mampu, bercerita kepada siapa pun saya tak tahu.
rumah tak terasa sesurga dulu, atmosfirnya berubah, semuanya berubah dan menjauh. meninggalkan saya sendirian.
sepi
sunyi
dingin
kosong

Tuhan sedang menguji saya.
hingga pada titik ini, saya mulai belajar mengkritik diri saya sendiri.
betapa arogannya saya, betapa sombongnya saya merasa memiliki segalanya dan bergantung dengan "segalanya" versi saya.
lambat laun saya beranjak melangkah, berjalan jauh dari rumah.
bertemu orang orang baru, belajar banyak dari kehidupan mereka.
saya menengok kota kota sebelah, saya berjalan dan terus berjalan mencari ketenangan hati, kedamaian jiwa.
saya merasa sangat kecil. amat sangat kecil dan tak memiliki apa apa.
menangislah saya saat mengingat kebodohan saya.
"seharusnya hanya pada Tuhanlah saya bergantung, hanya pada Tuhan saya bersandar."
memang kata kata ini sangat biasa jika diucapkan bahkan saya yakin akan mendapat cibiran jika mengucapkan kata ini. kata ini sangatlah umum dan bukan sebuah rahasia.
tapi entah kenapa saya yakin bahwa, dalam realitanya banyak orang yang secara tak sadar, unconsciously tidak mempraktekkan hal ini dan masih bergantung pada benda benda duniawi.
kenapa saya yakin?
karena saya manusia.
saya tahu, manusia itu dipenuhi hasrat, ambisi, nafsu. sering kali hal hal tersebut membuat manusai tak sadar dan keblinger. lupa asal mereka, lupa pencipta, lupa tugas terpenting mereka di dunia.
kenapa saya tahu? karena saya salah satu dari pelupa itu.

"Allah tidak memerlukan penjelasanku, hingga aku harus meminta padaNYA" (Ibrahim A.S. in Muara Cinta ust. Husin Nabil)

 

Jumat, 18 Maret 2016

Sembilan belas maret

Sedang duduk diantara orang orang yang sibuk
Super duper sibuk
Saya bisa mendengar langkah kaki mereka beradu dengan lantai putih pucat meskipun banyak sekali kebisingan di luar.
Saya bisa mendengar decit decit roda koper yang mereka tarik dengan susah payah
Nampaknya waktu sudah mengejar mereka hingga mereka tak sempat saling tukar pandang
Apalagi saling senyum menyapa.
Ah saya salah lagi.
Memang dewasa ini sudah tak jaman saling tersenyum pada orang asing.
Untuk apa? Kan kita tidak kenal. Kan kita tak sedang membutuhkan. Dan beberapa kan kan kan yang lainnya.

Kembali ke tempat ini
Entah kapan terakhir kali saya kesini
Tempat ini sudah sangat jauh berbeda
Lebih bersih. Putih. Pucat. Dingin
Tak ada lagi loket loket abu abu yang cat dindingnya sudah mengelupas
Sudut ruang yang lembab dan berjamur digantikan oleh beberapa colokan listrik yang berlabelkan 'gratis'
Surga bagi pecandu gadget busuk yang melabeli diri dengan kata 'smartphone' tapi ironisnya malah membuat pemakainya stupid dan gak peka
Oke. Maafkan saya karena saya mulai berkata buruk.

Masih disini
Meskipun semuanya berubah
Saya dengan masih bisa melihat dengan jelas
Kerumunan orang yang saling berdesakan
Bapak bapak merokok dan bersenda gurau diujung sana
Anak anak kecil yang berlarian gembira
Ibu ibu tak saling kenal namun mampu berbicara tentang cuaca
Tukang becak yang berebut penumpang
Pengap. Kumuh. namun hidup.

Rabu, 09 Maret 2016

Sepuluh maret

Saya makin tak mengerti tentang manusia dan kemanusiaan
Dua kata itu makin jauh
Dua kata itu makin tak jelas saat dipadukan
Saya bukan seorang religius fanatik
Saya bukan seorang misionaris yang berkhutbah akan esensi manusia
Saya bukan pula seorang sosialis yang berteriak akan kepedulian
Bukan. Kapasitas saya tidak sampai disitu.
Saya hanya manusia biasa
Sama seperti kalian yang membaca tulisan ini
Saya hanya manusia biasa yang muak akan apa yang saya lihat
Saya hanya manusia biasa yang saat ini mengernyitkan dahi melihat situasi dan kondisi
Beberapa manusia sudah lupa
Begitupun saya
Saya tak munafik mengakui banyaknya kelalaian saya akan esensi saya di dunia ini
Tapi ada beberapa hal yang mengganggu saya
Beberapa hal yang mengganggu pikiran manusia bodoh dan lalai macam saya ini
adalah apa yang terjadi pada manusia yang lupa akan kemanusiaan
Akan manusia yang bunuh membunuh demi ambisi
Akan manusia yang saling sikut demi urusan perut
Ah betapa kurang bersyukurnya mereka
Apa mereka sudah lupa?
Tuhan memberi porsi masing masing pada semua ciptaannya
Porsi itu bernama takdir
Kalau mereka mengaduk aduk milik orang lain, bukankah mereka mengubah porsi Tuhan?
Sesuci apa mereka? Kok berani mengubah ubah milik orang lain
Sebenar apa mereka? Kok mengusik hak orang lain
Ah entahlah. Sekali lagi saya bukan seorang misionaris. Apalagi sosialis.
Im just me

Selasa, 11 Agustus 2015

tentang menyerahkan waktu pada Tuhan

saya lelah menghela nafas panjang dengan bermacam macam beban dan pikiran yang bergelayutan dalam pundak pundak lelah.
waktu saya tak banyak
saya ingin berlari lebih kencang
saya ingin melaju mengikuti derasnya arus sungai yang menggebu
saya ingin tidur ditengah jalan manapun yang saya mau.
waktu saya tak banyak
tak pernah ada sedikitpun keberanian untuk menengok sisa sisa energi yang masih bersisa dalam tubuh saya
Tuhan, bolehkah saya meminta lebih?
saya sebenarnya terlalu malu untuk meminta sedikit ekstra keberuntungan lengkap dengan paket kebahagiaan yang didambakan ratusan atau bahkan ribuan orang di luar sana.
tapi bolehkah orang seperti saya meminta?
Tuhan maafkan saya,
saya sedikit memasamkan muka
saya sedikit berkoar koar tentang kerasnya tembok, dahsyatnya angin, jahatnya malam.
telah saya tengok dan telaah sisa sisa energi dan kobaran api api kehidupan kecil dalam diri
sedikit bergoyang tertiup angin angin nyata, sedikit meredup
maaf sekali lagi saya berkata
waktu saya tak banyak
bisakah saya memejamkan mata dan menikmati waktu terus menggerus, menggilas mimpi mimpi yang terangkum dalam lampion lampion beku

Tuhan, saya menyerahkan sisa waktu saya hanya untukMu

Selasa, 23 Juni 2015

dua puluh tiga juni

pukul 19.45
seharusnya saya sudah pulang dan menikmati empuknya ribuan tembang
berbantalkan angin jalanan
tapi apalah daya, saya harus terjebak dalam tempat ini
menunggu sesuatu yang tak pasti kapan jadinya
sendirian
dan dalam kesendirian ini saya mulai mempertanyakan
apakah arti loyalitas itu
mungkin tulisan saya ini akan sangat menyentil beberapa pihak
tapi saya merasa tidak perlu meminta maaf.
ketika kita loyal pada sesorang, bukan berarti kita akan mendapat perlakuan yang sama
kenapa saya bisa bilang begitu?
karena memang itu yang sekarang saya rasakan
sudahlah saya enggan membicarakan omong kosong macam ini
biar mereka meraba raba,
biar mereka tahu sendiri apa hitam mereka dan apa putih mereka
apabila mereka benar benar tidak bisa meraba
biar Tuhan yang menyibakkan semua batasan yang ada

Selasa, 16 Juni 2015

enam belas juni

saat ini dekstop komputer tua saya menunjukkan pukul 11.52
sudah beberapa jam melewati waktu di tempat yang cukup membosankan ini
entahlah, dari pagi jiwa saya entah sedang berkunjung kemana.
hingga siang ini tak ada tanda tanda jiwa saya kembali dalam raga.

tubuh saya sangat sangat letih
saya rindu angin
saya rindu guyuran hujan
saya rindu tawa tawa kecil
saya rindu kenakalan masa muda.

beberapa helai rambut saya mulai rontok
sang waktu terus menggilas dan menggilas semua kenangan indah saya
disinilah saya, berkutat untuk menemukan jalan mana yang saya tempuh
saya rindu ayah saya.
rindu bertukar pikiran, bertukar pendapat.

sebenarnya saya tak pernah punya masalah dengan kesendirian
tapi dengan kekosongan berbeda lagi ceritanya
mungkin beratus ratus eksemplar buku tak akan mampu menjelaskan, membabarkan bagaimana parahnya permasalahan saya dengan kekosongan.

sudahlah kekosongan ini mulai menjalar dalam kerongkongan saya.
saya sudah kehabisan kata

Minggu, 26 Oktober 2014

dua puluh enam oktober

seminggu telah berlalu sejak terakhir kali sayamenyapamu dengan kata kata basi nan tak bermutu
kukatakan sekali lagi kawan, kalian boleh mininggalkan page ini kapan saja

banyak sekali hal yang terjadi seminggu terakhir ini
saya mendapatkan telpon tak terduga dari sebrang pulau
entahlah, saya belum bisa memastikan apakah kabar ini baik atau sebaliknya
mungkin saya bisa memastikannya dua hari kedepan

saya ingin pergi dari sini
sungguh, ini bukan hanya keinginan anak kecil yang lari dari masalah atau lari dari oraang yang dia benci
saya hanya ingin pergi jauuhhh, entah apa yang saya cari
mungkin ketenangan, kedamaian, atau entahlah

dua hari kedepan saya akan pergi, semoga perjalanan saya kali ini bukan terakhir semoga ini yang pertama.
saya sebenarnya sangat takut.
akan banyak sekali orang yang saya repotkan, akan banyak sekali orang yang mengkhawatiirkan saya.
saya takut mengecewakan mereka
saya takut saya tidak bisa membahagiakan mereka. atau setidaknya membalas semua jasa mereka
ah, sudahlah semoga saya tidak mengecewakan mereka
Allah, permudahkan jalan saya, semoga saya tidak mengecewakan orang yang saya sayangi

saya tidak ingin mengatakan hendak kemana saya pergi,
bukan karena saya ingin menutupi
tapi ini semua karena belum pasti
saya tidak ingin berkoar koar tentang sesuatu yang belum pasti,
itu saja

beberapa hari yang lalu saya melakukan perjalanan yang lumayan seru.
ini pertama kalinya saya melakukan perjalanan sendirian, dengan naik angkutan umum
lucu memang..
saya bertemu dengan banyak orang baru yang baik
pengalaman yang lumayan baik.

beberapa hari yang lalu pula, saya menjalani serangkaian tes yang menurut saya sangat absurd
entahlah, kenapa saya sangat malas untuk membahasnya

mimpi saya akan anak anak saya terasa makin menjauh
harapan harapan kosong mulai bergantungan menghiasi relung hati dan pikiran saya
saya ingin mereka,
bagaimanapun mereka adalah anak saya, saya ibu mereka
tapi banyak sekali halangan yang memisahkan kita
semoga Tuhan sedikit demi sedikit membukkan jalan untuk saya
agar bisa membelai, menimang, memelihara mereka, membuat mereka tersenyum, mengajari mereka akan dunia, memperlihatkan pada mereka bahwa mereka insan yang luar biasa

Tuhan, saat ini saya hanya berpijak pada segala takdir yang telah Engkau tulis dengan apik

selamat malam ayah, ibu
selamat malam cinta
selamat malam nak.

Sabtu, 18 Oktober 2014

sembilan belas oktober

minggu ini cerah
cuaca yang indah untuk pergi ke gereja
semoga banyak dari kalian yang beruntung hari ini kawan

saya sekarang lebih sering menghabiskan waktu disini
sekedar untuk membuang waktu atau menuangkan kekosongan beberapa pekan terakhir ini
imajinasi saya sedang dalam fase kritis
ah, mungkin dia lelah karena saya forsir setiap malam
atau mungkin dia kehabisan obyek untuk dieksplorasi?
ah, dugaan saya yang terakhir itu saya rasa kurang tepat

saya tak tahu sudah berapa lama saya berkutat dengan perasaan ini
ya, beberapa hari terakhir ini saya berkutat dengan yang namanya perpisahan
well,saya harus menarik afas berat kalau membicarakan tentang hal yang satu ini

september dan oktober
bagi beberapa orang mungkin menjadi bulan yang bahagia, memorable.
sebagian ada yang merayakan kelulusan, menyandang status baru sebagai sarjana atau status baru sebagai istri orang
well, saya nggak ambil pusing tentang apa yang mereka alami
tapi apakah saya disini yang justru bersedih pada saat seharusnya semua orang berbahagia?.
saya memang aneh

sekarang saya akan mencoba mendeskripsikan maksud saya

banyak, sangat banyak hal yang saya tinggalkan
keluarga, teman, moment tertawa, moment kebebasan berkata, berfikir, moment bersama, moment dimana tidak ada rasa saling memiliki, moment tersenyum dengan tulus tanpa harus berfikir dahulu, moment menjajaki duia yang keras, moment berjuang dengan keras atau tidur di atas alas.
ah.
tunggu, saya ingin mengisap kopi saya dulu

kadang saya bertanya
kenapa manusia dan kejadian selalu datang dan pergi?
kenapa mereka tidak datang saja? kenapa ada fase yang bernama pergi?
kenapa ketika kita mendapatkan kebahagiaan, kita tidak bisa menyimpannya, mengumpulkannya hingga menghasilkan bertumpuk tumpuk kebahagiaan?

ah, saya ini ngomong apa.
sudah jelas dalam keyakian saya bahwa sesuatu berawal dari kata "tiada ke ada dan kembali ke tiada".

tapi saya ingin berbicara ini, ingin menyampaikan ini, ingin menulis ini:

setiap tawa dan bahagia yang kau dapatkan akan berimbang dengan banyaknya kesedihan dan kesepian yang menunggumu di ambang pintu

lantas apa yang harus saya lakukan?
apa saya harus menjalani hidup dengan datar.
bernafas, tidur, beraktifitas saja?
entahlah saya tidak tahu

sekali lagi saya sedang berbicara dengan tembok.

Sabtu, 11 Oktober 2014

dua belas oktober

sekali lagi maaf kawan, aku tak pernah tahu apa yang sedang ku tuliskan
hari ke dua belas, atau mungkin hari ke sebelas
entahlah, hitung menghitungku semakin memburuk atau memang dari dulu buruk
sebelas hari sudah aku dibawa kembali ke ruang dan waktu yang sama
sama persis dengan entah berapa bulan yang lalu
ruang dan waktu yang seharusnya tidak terulang
ruang dan waktu yang seharusnya ku hindari
tapi tetap saja terjadi

ini tentang merindukan,
bukan masalah sebenarnya merindukan sesuatu atau seseorang, itu sudah manusiawi
kurasa sudah jelas kawan siapakah yang kuridukan
jiwaku, pilarku, aku, darahku, tawaku, hidupku, dia Ayahku
selama dua puluh dua tahun,
teknisnya tiga tahun terakhir ini
segala yang kulakukan hanya untuk dia
segala sakit, luka, air mata. kujalani hanya untuk dia

tugasku yang diberikan olehnya, telah kuselesaikan satu satu
seharusnya aku lega tugas itu telah selesai
tapi entah kenapa sebagian kecil hatiku yang lainnya berkata
'ini bukan yang kamu inginkan'
setelah beberapa tugas selesai, entah kenapa jiwaku pun ikut pergi seiring dengan selesainya tugas itu
apa ini kutukan?
aku merasa hidupku selama ini bergantung pada tugas yang dia berikan
aku merasa ada dan hidup saat menjalankan tugas darinya

aku mulai berfikir
segala tugas yang dia berikan, sekecil apapun itu.
menuntunku ke sebuah jalan
ketika satu persatu tugas itu selesai ku kerjakan
semakin sedikit penunjuk arah yang kudapatkan
saat semua telah benar benar selesai, aku yakin aku harus menemukan jalanku sendiri
apa aku siap?
akupun tak tahu jawabannya
aku memiliki kepercayaan diri yang lumayan buruk
aku merasa bahwa aku belum mampu untuk menciptakan jalan sendiri.

ini tentang depresi
saat ini, aku sangat suka menghabiskan waktu dengan tidak melakukan apa apa
aku bisa seharian duduk, menatap obyek semu, tak merasa lapar, tak merasa haus
mungkin jika kalian menyayat tubuhku, tak setetes darahpun akan menetes
entah apa yang terjadi padaku
kepalaku terasa begitu berat
menangis tak bisa, tertawa pun tak mampu
aku tak pernah tahu apa yang terjadi padaku
aku berharap, bermimpi agar dapat duduk di remangnya lapangan hijau
membunuh malam. membunuh kegundahan yang tak jelas sebabnya. membunuh jiwa jiwa sesat dalam tubuhku

ini tentang orang sekitar
saat ini, kalau boleh berkata, meminta dan memilih
aku akan memilih untuk hidup sendiri
jiwaku, rohku sedang tidak bersemangat untuk berinteraksi dengan orang lain
jika aku memaksakan berinteraksi,
hanya ada dua kemungkinan.
aku yeng terluka, atau mereka yang terluka
diam
semoga itu memang pilihan yang tepat
sekali lagi, aku tak pernah tahu apa yang terjadi
sangat konyol

Selasa, 07 Oktober 2014

tujuh oktober

rasanya lama sekali saya tidak menulis tentang apa yang saya alami
yah, akhir2 ini saya mengalami masa yang lumayan menyita banyak fikiran
kata orang daging dan lemak mulai meninggalkan saya
hahaha ini efek pertambahan usia
saya kemarin sempat melakukan pemberontakan
yah, saya memberontak karena sistem mereka yang kapitalis
saya benci orang yang mempergunakan wewenang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan
well, teknisnya dia berhadapan dengan orang yang salah.
saya memberanikan diri untuk keluar dari zona aman dan memberontak
hahahaha
memang sudah mengalir di darah saya :)

luka baru bertengger di kaki saya
sedang luka saya yang lainnya belum kering
tidur tak nyenyak, makan pun tak enak
semoga cepat sembuh

tadi saya touring ke sebuah daerah yang amat sangat rawan.
off road
melawan panasnya matahari dan yang paling mendebarkan adalah bertarung dengan truk trailer yang ukurannya lumayan besar. dan mereka ada banyak, mereka berombongan bersama saudara saudara mereka
ada yang warna merah, hijau, biru, sampai yang catnya sudah mengelupas.
entah siapa yang mengembang biakkan kendaraan berbahaya itu.
saya agak tidak suka

hmmm
nampaknya musuh saya bertambah lagi.
mereka mulai menyusun rencana yang saya tidak tahu isinya apa
saya selalu berharap
saya bisa melawan mereka dan memegang teguh prinsip saya
musuh saya mulai melancarkan serangan
Allah, kuatkan saya :)

Jumat, 05 September 2014

enam september

lama tak bersua dengan bulan yang katanya ceria ini.
ah, itu hanya mitos
buktinya saya tetap terperangkap disini bersama manusia yang entah apa sebenarnya tujuan mereka.
saya tidak pernah tahu apa yang saya lakukan disini
apakah ini sebuah kepalsuan belaka
saya mulai bertanya tanya lagi.
kenapa saya selalu dihadapkan dengan orang orang yang memiliki banyak muka
saya lelah
otak saya mulai berontak
jiwa saya sudah merengek untuk pergi jauh dari ruangan biadab ini
saya ingin pergi tapi tidak tahu hendak pergi kemana
saya ingin berlari namun tidak pernh tahu apa yang saya kejar.
saya mulai bingung dengan apa yang terjadi disini
tapi saya jalani saja
saya yakin Tuhan mempunyai rencana yang lain untuk saya.
sekali lagi saya sangat rindu dengan masa lalu saya

Senin, 18 Agustus 2014

sembilan belas Agustus

ku tulis ini dengan acak kawan
aku tidak pernah mempunyai koordinasi yang baik dengan ingatanku
aku pun tak pernah mempunyai hubungan yang baik dengan perasaanku.
ah, bialah. janganlah kau teruskan membaca ini.
jika mulai terganggu, katakan padaku.

jahat nian hari hari sepi ini meninggalkanku dengan cepat
aku terus berpacu dengan waktu
dihadapkan dengan berbagai pilihan
mimpiku yang melelahkan
masa depanku yang tak pernah jelas seperti apa
atau tetap berdiri disini menikmati setiap mili kebosanan?
aku belum memutuskan
hei sang waktu. tak bisakah kau berhenti mengejarku?
biarkan aku melakukan yang aku mau.

kamis lalu, bekas luka baru bertengger di kakiku
tak bosan tubuh ini mencium aspal
beradu dengan dinginnya lapisan hitam kejam
hehe
semoga ini yang terakhir.

bayangan untuk menyerah datang lagi.
aku ingin berhenti
aku ingin berhenti
aku ingin berhenti

Minggu, 10 Agustus 2014

sepuluh agustus

lumayan lama tak menulis di blog tercinta. hehe
seminggu terakhir disibukkan oleh kegiatan duniawi
status saya memang masih magang.
tapi untuk beginner journalist, sudah lumayan treat yang saya rasakan
liputan pertama yang benar benar sendiri tanpa didampingi fotografer (pak Madji tauk kemana)
masuk di sebuah lingkungan yang tidak pernah saya bayangkan. liputan pertama di hotel berbintang 5
mungkin pengalaman yang bagus
yah, mungkin pengalaman yang bagus. sangat bagus kalau saja tidak bertepatan dengan deadline revisi skripsi
sungguh, ini hidup tersibuk yang pernah saya jalani
bahkan ketika masih berorganisasi di kampus juga tidak sesibuk ini
susah juga membagi waktu yang tepat
di satu sisi revisi saya jangka waktunya cuman seminggu. sedangkan di sisi lain setiap hari ada saja topik berita yang harus saya tulis
ada saja orang yang harus saya wawancarai.
kulit saya memar memar biru. tanda berontak
hehe
tapi tak pernah saya hiraukan
kurang tidur? ya pasti
kurus? jelas
tapi entah kenapa saya merasa "Hidup"
saya melakukan ini bukan untuk mengejar duniawi, terlebih materi.
saya melakukan ini karena saya merasa "Hidup".
simple kan?
ini mungkin ya yang dinamakan CINTA

lakukan apapun yang kamu sukai.
jadilah seseorang yang kamu inginkan
karena hidup hanya satu kali


Kamis, 31 Juli 2014

hi penghuni agustus

penghuni agustus menyerukan, memanggi nama saya
mereka mencoba membelai saya, membuai saya dengan kata manisnya
gila, mereka merayu saya.
hehehe tenang, saya tipe setia
*setiap tikungan ada

pembarep (jawa) bulan agustus menyambut saya dengan sebuah hadiahh
taraaa
four leaf clover
tapi ini bukan leaf, lebih elit dikit lah. flower :)
bunga kamboja berkelopak empat.
beberapa orang berkata, kamboja adalah sekar yang horor. tumbuhnya di kuburan -_-
tapi bagi saya aromanya oke kok. dibandingin bau saya sih :v
bunga ini mempunyai lima mahkota
eh, tapi saya nemu yang empat :D
katanya sih yaaaa.. pembawa keberuntungan dan rizki
aammiiinnn lah :)
buat pembarep agustus, thanks bunganya.
saya simpan dengan penuh cinta.
saya tunggu hadiah berikutnyaaaaa

oiyaa, pembarep agustus juga kasih saya inspirasi,
daur ulang, built in storage, cat tembok, lampion
wahhh semuanya kereennnnn
saya suka saya suka

dia juga buka mata saya
heheheheheheheheheheheee
kalo masalah yang satu ini saya nyengir aja dee
soalnya saya ngaku kalau saya blo'on.
saya selalu salah menduga, mengira
saya terlalu baik atau terlalu bodoh?
entahlah.

Rabu, 30 Juli 2014

penghujung juli

saya harus menulis ini, sebelum saya lupa
saya harus menulis ini, sebelum sang waktu menghapus ingatan samar saya
saya harus menulis ini, sebelum jejak di atas batu terguyur derasnya hujan
saya harus menulis ini, sebelum pikiran pikiran bodoh kembali telintas di benak saya

kemarin adalah perjalanan yang sangat membuka mata saya, menyadarkan saya tentang arti cinta yang sesungguhnya.
inilah yang dinamakan cinta
de javu
memang terlalu cepat saya menyimpulkan,
tapi saya tidak pernah seyakin ini. belum pernah sebelumnya.

bapak berambut putih itu
ah, kenapa saya jadi melow begini
tidak bisa saya pungkiri, dengan mengingat wajah bapak itu saja sudah membuat saya tercenung.
ketika beliau nyata ada dijangkauan penglihatan saya, saya hanya terdiam dan menganga
begitu miripnya, begitu identiknya.
tak hanya wajahnya, gerak-geriknya, sopan santunnya.
sama
bagaimana bisa ada orang yang begitu sama.
bagaimana saya bisa bertemu orang yang mengingatkan saya pada beliau yang terhormat?
gila, saya mulai mencari-cari alibi
saya mencari alibi, alasan pemuas hati.
saya memilih satu alibi yang paling bijak, setidaknya itu menurut saya.
saya terus memperhatikan Bapak itu, kemudian istrinya.
saya mencoba memahami tipe orang seperti apa mereka
dan satu kesimpulan kembali muncul
sama, lagi lagi sama.
saya mulai agak ternyuh,
ingin menangis, bukan bukan menangis sedih.
menangisi diri sendiri.
betapa butanya saya.

saya tetap menunggu.
apa yang terjadi selanjutnya
apa yang Tuhan coba sampaikan kepada saya.
tak lama, putri beliau datang.
sungguh saya lebih ternganga
kalau saya boleh menyimpulkan, putri beliau adalah fusi
fusi dari saya dan imajinasi aktif saya
benar benar identik, otentik, tak ada duanya

saya mulai paham
saya mulai mencerna kata-kata Tuhan melalui video baru ini
saya mulai lebih ikhlas
saya ikhlas
ikhlas saat melihat senyuman keluarga kecil itu
Bapak berambut putih yang bijak
Ibu yang cantik, lembut, baik hati. sungguh ibu yang sempurna
Putri yang cantik jelita, berambut hitam legam, bergaya bak srikandi kota.

saya sayang mereka.
inilah cinta yang sesungguhnya..


Rabu, 23 Juli 2014

dua puluh satu juli

saya tidak pernah menyangka
dua belas juli Tuhan membukakan pintu yang lain untuk saya.
entah kenapa disini saya merasa seperti dirumah.
mereka baik, mereka ramah
saya kikuk pada awalnya
sampai sekarang juga masih kikuk.
saya suka disini
mereka masih muda sepeti saya
mungkin kami memiliki jiwa yang sama
sekali lagi bung
ini bukan tentang uang
ini bukan tentang kebanggan
tapi ini tentang jiwa
semoga tetap disini
semoga terus membaik
karena saya suka disini

T86

Senin, 14 Juli 2014

lima belas juli

sidang skripsi..
tahap akhir yang sangat penting bagi para mahasiswa semester akhir
dan kenyataannya, jalan saya tidak pernah mudah untuk dapat sampai ke moment yang bernama sidang.
saya sudah berjuang mati matian mempertahankan judul skripsi, konsep yang saya yakini, ide yang saya agungkan,
mati matian mencoba terus dan terus membangun motivasi yang sudah runtuh setahun terakhir
perjuangan, darah, air mata -_- demi enam puluh halaman penuh senyuman dan ejekan.
perjuangan mengatur jadual, menunggu berjam jam, berhari hari, berminggu minggu.
mulai jadi jongos, supir, tukang ketik.
semua terasa terbayar saat mendapatkan tiket emas menuju perhelatan akbar
semuanya terasa terbayar saat nama tertera di urutan yang kedua
semua terasa nyata, saat rasa lelah melanda dan bayangan akan menyandang gelar sarjana mulai kabur entah kemana.
tetapi semua itu hanya
terasa...........
:)
saya hanya bisa tersenyum, menghela nafas berat, mengirimkan berjuta kata maaf untuk insan yang selalu ada di sisi saya,
entah itu mereka yang nyata atau tak nyata.
semua bayangan yang saya kira menjadi nyata, sekejap sirna saat saya menerima deretan kata dalam layar nokia lima dua tiga tiga.
ah, pikiran saya terbang entah kemana
jiwa saya terasa ikut larut dalam heningnya malam selasa
raga saya mulai lelah dalam hembusan angin malam
apakah saya harus menyerah?
apakah saya harus berhenti?
saya lelah.