Tampilkan postingan dengan label sepenggal kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sepenggal kata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 April 2019

marriage -


Here we go, another blank pages.

Sejujurnya sudah setahun mungkin lebih saya tidak bisa menulis dengan baik, atau mungkin selama eksistensi hidup saya, saya hanya berpura pura dan meyakinkan diri saya bahwa saya pandai menulis padahal tidak. Sudahlah, saya tidak mau memusingkan apakah saya bisa menulis atau tidak.

Pagi ini saya hanya ingin sendiri, saya hanya ingin mengumpulkan sisa sisa kewarasan saya. Mungkin saya sedang tidak cukup waras? Atau sedang sepenuhnya tidak waras?. Begitu banyak pertanyaan yang berbutar putar dalam kepala saya. Banyak sekali potongan adegan adegan, baik yang secara fisik memang terjadi maupun hanya rekaan saya. Saya cukup pintar membuat rekaan adegan berdasarkan fragmen fragmen kecil yang mungkin tak sengaja saya temukan. Mungkin bapak saya dulu seharusnya menyekolahkan saya di dunia peran, saya mungkin akan menjadi sutradara brengsek yang dibenci banyak aktor dan kru film. Sudahlah, saya potong saja perkataan saya yang ini.

Fokus saya sedikit ambyar, beberapa bulan yang lalu saya disibukkan dengan yang namanya pernikahan. Sumpah itu salah satu hal paling ribet yang pernah terjadi dalam hidup saya. Begitu banyak hal yang terjadi sampai saya sedikit bingung untuk mengurai dan menceritakan kepada kalian. Tapi yang jelas, jika suatu hari nanti ada teman kalian yang sok bijak mengajak kalian duduk di taman, atau mengajak kalian nongkrong di cafe, atau mengajak kalian pesta piyama dan mengatakan bahwa menikah itu asik, menikah itu indah, menikah itu menyenangkan. Saya minta tolong segera tampar teman kalian itu, karena nyatanya nikah itu gak se-fairy-tale yang mereka bacotkan.

Mungkin sudah banyak tulisan membahas topik ini, baik dari segi ekonomi, sosial, psikologi, politik dan berbagai macam lainnya. Tapi kali ini saya coba membeberkan dari segi yang paling kekanak kanakan, segi yang paling kecil, segi yang paling remeh, segi yang paling gak penting. Lantas ngapain saya capek capek membeberkan hal yang gak penting? Ya karena saya mumpuninya cuman untuk bahas hal hal yang kecil. Sisi yang ingin saya bahas adalah tentang cinta.

Nikah itu gak melulu tentang cinta. Kata mereka yang sudah dewasa sih gitu, katanya nikah itu gak cukup modal cinta, palingan nanti setahun atau dua tahun sudah luntur cintanya, katanya sih gitu. Dan saya sadar saya belum cukup dewasa untuk berani mengakui bahwa salah satu dari sekian banyak landasan saya memilih mau untuk dinikahi suami saya sekarang bukanlah cinta. Yakalik saya gak munafik munafik banget kalo saya ingin dinikahi laki laki yang saya cinta dan mencintai saya. Tapi masalahnya saya gak punya cukup superpower atau kacamata khusus yang bisa menembus isi hati sesorang.

Mungkin yang road to menikah akan sampai pada sebuah titik dimana muncul benih benih keraguan. Muncul banyak fragmen pertanyaan. Benarkah dia yang terbaik? Benarkah dia yang ditakdirkan untuk saya? Apakah hanya saya yang dicintainya? Apakah keputusan ini benar?. Jujur saya dulu tiga kali sholat istikhoro untuk memantapkan hati. Honestly meskipun hasil sholat menunjukkan hal yang positif,saya tidak bisa menyangkal bahwa masih timbul sedikit keraguan dari dalam diri saya. Ketika suami saya menanyakan apa yang saya ragukan? Apa yang membuat saya bimbang? Jawaban yang saya berikan pada dia adalah “saya ragu pada diri saya sendiri” dan saat itu saya sedang berbohong, saya benar benar pengecut yang sedang berbohong. Saya tidak cukup berani untuk mengakui bahwa saya ragu terhadapnya juga.

Sejujurnya saya tidak tahu apakah kebanyakan perempuan punya sudut pandang yang sama dengan saya atau tidak. Intinya begini, saya tidak mau sepenuhnya mencintai seseorang jika dia tidak sepenuhnya mencintai saya. Mungkin keraguan saya muncul karena cinta yang saya punya begitu besar untuk dia, dan saya tidak mau mempertaruhkan itu semua jika saya tidak mendapatkan hal yang sepadan. Yang pada kemudian hari, pandangan saya perlahan tergeser. Saya terlalu realistis, saya terlalu perhitungan dan jika kalian menikah, hitung hitungan hanya akan menimbulkan masalah. Jika ada hitung hitungan namanya bukan cinta.

Dear ladies, ketika kalian sudah memutuskan untuk menikah, kalian pun harus siap memutuskan hubungan dengan keegiosan kalian. Pastikan kalian sudah tidak sakit hati saat tiba tiba menemukan surat cinta yang mungkin masih disimpan suami kalian. Mungkin disitu terdapat banyak sekali kata kata bak pujangga yang diucapkan oleh laki laki kalian pada perempuan perempuan mereka yang tidak pernah diucapkan pada kalian, istrinya. Pastikan kalian tidak menangis di pojokan saat mengetahui fakta bahwa mungkin suami kalian masih susah melupakan kenangan kenangan dengan perempuan perempuan sebelum kalian. Namanya juga kenangan ladies, tentu suatu hari nanti akan diputar secara random entah saat hujan turun, saat melewati resto, bioskop atau tempat tempat kencannya dia dulu. Juga pastikan hati kalian benar benar kuat untuk menerima kenyataan bahwa kalian bukan yang pertama. Karena ada beberapa perempuan yang kurang bisa menerima bahwa dia bukanlah yang pertama, bukanlah satu satunya. Mungkin perempuan perempuan itu parno akan pasangannya yang mungkin tidak bisa move on.

Menikah memang ga-se-fairy-tale yang dibacotkan. Jika kalian tidak bisa mengendalikan perasaan kalian sendiri, mungkin menikah adalah mimpi buruk, benar benar mimpi buruk yang gak bisa kalian hindari. Dalam bebrapa kasus kalian harus pintar pintar menyembuyikan affection kalian yang begitu besarnya itu. Kalian harus menyembuyikan affection kalian yang berpotensi memicu pertengkaran. Affection berlebih yang menuju ke arah jealousy, negative thinking dan hal kurang baik lainnya. Jika affection berlebihan itu muncul, kendalikan dengan baik.

Ladies, kalian tidak bisa memaksa laki laki untuk merasakan, melakukan, menunjukkan hal hal yang sama dengan kalian. Laki dan perempuan itu berbeda soal cinta. Tidak tidak, maksud saya setiap orang memiliki cara yang unik ketika berhadapan dengan cinta. Pun pasangan kalian dan kalian tidak harus sama. Jika kalian ingin memiliki cara yang sama, bicarakan dengan pasangan. Buang keegoisan kalian ladies. Laki laki tidak se-dukun itu.

Jadi intinya gini, ini saya juga berbicara untuk diri saya sendiri. Saya tidak peduli, entah laki laki saya masih menyimpan rapih semua kisah cintanya dia atau tidak, entah dia masih menyimpan serpihan bukti kebersamaan dia dengan sang mantan yang bisa sewaktu waktu dia ratapi atau tidak, entah perasaannya pada saya tidak melebihi perempuan perempuan sebelum saya atau tidak, entah dia mencintai saya atau tidak. Saya benar benar tidak peduli, persetan dengan itu semua. Yang jelas apapun itu, saya mencintai dia sebagai imam saya, saya mencintai dia karena dia jalan untuk mendekatkan diri pada Tuhan, saya mencintai dia karena anak anak saya nanti.

Pun kalian harus persetan dengan semua bedebah pengganggu jiwa dan mental kalian. Kalian harus taklukkan mereka semua. Kalian harus percaya bahwa laki laki kalian tidak akan melakukan hal hal yang melukai kalian. Laki laki tidak akan melukai perempuannya baik fisik maupun mental. Salah satu elemen menikah yaitu percaya. Dan saya percaya pada dia. J

Rabu, 06 Juni 2018

jika aku

dalam fase lelah
cerita yang sama dan selalu diulang ulang
kisah serupa dan waktu yang dibuang buang
bosanku makin menggemuruh
marahku hilang tergantikan keruh
keruh pikirku keruh kalbuku
aku menghitung langkah satu persatu
ini mendekat atau menjauh?
aku tidak tahu

ketukan ketukan kakiku melemah
aku merasa kamu tak lagi ada
akupun perlahan menghilang saat senja
tubuhku terbaring lemah
indraku tak lagi peka
kulitku tak lagi sama
gembiraku pun sirna

jika ini yang namanya cinta
aku akan diam saja
aku bodoh tak tahu apa apa
jika aku ditakdirkan menjadi pecinta
kenapa aku belum sepenuhnya pasrah?

#soe

Kamis, 04 Januari 2018

gitar tua

Old man.
Gitar tua, usang, lapuk tak berharga (katanya)
Sebelum dilanjutkan, aku hanya ingin berkata bahwa ini bukan tentang rupa, usia, atau bahkan harga
Ini tentang pengingat tentang hal hal yang tak boleh aku lupa
Aku dibesarkan dengan beraneka kisah dan cerita (kebanyakan kisah susah, menggelitik tapi juga bahagia)
Satu kala cerita tentang bocah kecil dua tahun yang ditinggal ayahnya. Tentang ibu yang kewalahan mengasuh anak anaknya
Si bocah pun dititipkan pada sanak saudara (masih banyak detailnya)
Ada kalanya kisah tentang gadis cilik yang nasibnya tak jauh beda
Anak pejuang revolusi yang mati, ironisnya ditangan kawan sendiri
Motifnya (kata mereka sih) iri (detailnya kuceritakan nanti)
Kala kala berikutnya ada kisah penuh imajinasi
Tentang pandawa bersaudara dan langsung kunobatkan diriku sebagai sadewa
Padahal aku berharap menjadi si jago panah, sang arjuna. Yang mampu membunuh prabu karna

Lalu hubungannya apa dengan gitar tua?
Ah. Jelas kalian masih bingung jika tetap menilai dari rupa
Sini aku ceritakan lagi
Sebelum dilanjutkan, aku hanya ingin berkata bahwa ini bukan tentang rupa, usia, atau bahkan harga..... 


-soe

aku masih suka 'nginceng' kamu

Aku masih suka membicarakan dan memikirkan kamu dalam setiap keterbatasanku, ketidakyakinanku, kemunafikanku, kebodohanku, ketidaktahuanku, kesempitan pola pikirku, ke ke ke yang lainnya
Aku sering menganalisa, berhipotesa, merangkai pecahanpecahan kaca yang tak teratur bentuknya, menyusun robekan kertas yang serabutnya silang sengkarut
Aku masih sering mencarimu
Aku tahu itu membuang waktu, aku tahu itu tak membuat kunang-kunang jalanan berhenti kelaparan, aku tahu itu tak sedikitpun menyelamatkan korban pengeboman, aku tahu itu tak mengenyangkan bayi-bayi yang sedang kelaparan.
Sudah paten ini benar-benar tak berfaedah, tak bermanfaat, tak berguna. Dungunya aku tetap mencarimu, mempelajari setiap gram kerumitanmu. Masih adakah yang lebih dungu dari aku?
Ya, aku masih suka ngintip kamu. Mencatat setiap detail tak jelas. Menggumamkan tiap ketidakjelasan itu pelan dalam memori terbatasku. Dan yang ku syukuri, Tuhan sering mengingatkanku
Ya, aku masih suka mengorek informasi tentang kamu. Aku sering bertanya pada buku lapuk menguning yang kebanyakan sudah dibuang, diinjak, dirobek. Aku? Masih memungutinya satupersatu. Lamatlamat sambil menyusun parsial-parsial sering kugumamkan doa, suatu hari ini akan berguna. Setidaknya meskipun bukan untukku
Aku sering mengamatimu dari lakon Rama yang mencari Sintanya. Kresna yang amat mencintai Rukmininya. Janoko dikelilingi banyak istri dan anaknya dimana-mana. Abimanyu yang terkena serapahnya sendiri, Gatotkaca mesin pembunuh milik dewa. Bhisma yang mati oleh karmanya sendiri. Dan banyak lakon-lakon lainnya.
Meskipun aku sering lupa detail ceritanya, parsial itu tetap mambuatku tertawa. Karena ada kamu disana
Sering ku'inceng' kamu dalam banyak ceritera tentang batu batu yang saling berbicara. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi aku dengan segala ketidakmengertianku mencoba menelaah bahasa batu. Jangan kamu tanya alasannya, jelas karena ada kamu disana.
Sesekali kuintip kisah tentang pembunuhan. Kisah pembantaian yang coba ditutupi, dibelokkan kebenarannya.
Memang itu sedikit mengerikan. Tapi jika kamu ada disana, itu takkan jadi masalah.
Selama kamu disana semua takkan jadi masalah


-soe

kopi 'pertama'ku

Aku sudahi sajak2 buluk filosofi2 basi dari kopi. Aku sudahi mendengarkan cerita2 menyedihkan yang sepotong demi sepotong disuapkan pada mulutku. Terlalu penuh.
Bagian paling bodoh yang kulakukan adalah memecahkan dan membenci cermin2, dulu mereka kusayangi. Aku membenci hal yang kuyakini selama ini. Apa apaan lagi ini?
Candaan paling tak lucu adalah aku mempercayai kamu yang bilang ada sianida dan potassium dalam cangkir kopiku. Aku membuang kopiku, kuisi dengan susu, supaya aku yang kecil sehat selalu (katamu)
Hari ini curi2 kusesap kopi 'pertama'ku. Kudengarkan celotehan baik-buruk, contoh ini-itu, kebanyakan aku menggerutu, kebanyakan pikiran sempitku mengesalkanmu. Intinya ujung rambut hingga ujung kakiku mengganggu pandanganmu. Lantas untuk apa aku tetap disitu?
Kopi 'pertama'ku membisikiku, melemparkanku jauh pada musik2 yang aku rindu. Menekan tombol 'play' pada videoplayer tentang mereka yang menerima dan tak menghakimi setiap inci kebodohan, kesempitan pola pikir, keanehan, ketidakwajaran, ke-konvensional-anku.
Kopi 'pertama'ku habis. Seperti kisah manismu dengan siapapun itu yang secara acak kau ceritakan padaku.
Kopi 'pertama'ku habis, aku ingin menangis.
Namun sekali lagi kau benar, kopi ini mungkin mengandung sianida. Tanganku mulai bergetar, cerita2mu menjadi samar. Hari ini (mungkin) bagian itu dalam diriku akan mati. Hari ini bagian lain dari diriku bangkit lagi.
Bagian dari diriku yang (mungkin) amat sangat kau benci.


-soe

caturasrama

Aku tahu aku diambang fase brahmacarinku
Sedikit terlambat, aku masih mau berlama lama di fase ini. Aku masih ingin bebas sinau, mereguk banyak pengetahuan baru. Bertemu aneka guru, guru hidup, guru alam, semuanya.
Lekat2 kupandang gerbang grhasta. Apa gerbang ini harus kulewati begitu saja? Menyerah merelakan apa2 yang (dulu) kupertahankan mati2an
Seharusnya aku sedang menjalani fase ini, sudah 'titi wancine' aku menikah (menurut runtutan fasenya) tapi aku biasa saja. Apa aku terlena dalam fase sebelumnya.
Entahlah, mungkin iya atau mungkin aku terlalu pengecut mengakuinya, atau aku terlalu takut dengan apa yang ada dibalik gerbang itu?
Timbul dibenakku pertanyaan. Setelah grhasta lantas apa lagi? Pintu mana lagi yang harus kumasuki?
Kata orang fase wanaprastha, menjauhi kehidupan duniawi, merenung dan bertapa dalam 'wana' atau hutan. Dahiku berkerut. Hutan yang mana?
Hutan sekarang tak ada dahan. Tak ada hewan. Kehidupan duniawi seperti apa yang harus dijauhi?
Mungkin ini yang nanti harus kurenungi sambil menyesap kopi
Hutan yang teselubung dengan modernisasi. Duniawi yang terbalut dalam ego diri sendiri. Sudah2 aku bersyukur aku belum sampai di fase ini.
Gerbang terakhir dan jalan buntu adalah gerbang sanyasin. Jalan buntu sambil menunggu waktu mati. Berkelana mengembara sambil menunggu dipanggil oleh pencipta.
Ada yang menulis karya sastra, ada yang bertapa digunung dalam goa.
Sedikit banyak itulah gambaran caturasrama


-soe

setua gini

Aku bingung bagian mana yang mau ku adukan. Aku tak tau katakata mana yang patut jd kutipan
Segede gambreng gini aku masih suka banget nangis dipojokan. Nyakar nyakar tembok, gigit bantal kalau lagi kesakitan
Masih suka nyarik Ibuk. Mas. Bapak, manjanya kebangetan. Ini seriusan!
Tapi aku suka jalan sendirian, bahaya tapi mendamaikan. Aku suka diasingkan, salahsatu yang menenangkan.
Aku suka sepi, duduk nyeruput kopi, walaupun sekarang itu sudah kukurangi. Lambungku menyuruhku untuk berhenti. Tapi kadang aku rindu setengah mati
Aku kadang suka menenggelamkan diri dalam kubangan kebohongan, pembenaran pembenaran versiku, kubangun tembok kokoh yang bakal susah disingkirkan
Setua gini aku masih nyari sosok dia dimana mana. Padahal aku tahu dia sedang mengawasiku dari balik pintu, depan jendela, aku tahu setiap hari dia menungguku pulang ke rumah. Rumah yang tak lagi sama
Setua gini aku masih penasaran ada apa dibalik cakrawala. Mungkin ada naga raksasa, atau manusia awan yang saling bertengkar dan menyebabkan hujan
Setua gini aku masih doyan kisahkisah konspirasi dan fiksi, salah satu yang bikin aku ketawaketawa sendiri
Setua gini dengan segala ketidakjelasanku aku mencoba menyatukan fragmen fragmen, petunjuk ini itu yang aku yakin sedang menuntunku pada sebuah harta karun. Hahaha
Kadang hidup memang selucu itu


-soe

seketika aku lupa

Seketika aku lupa. Bejana bejana kacaku mungkin sedang duduk berdua, bertiga, berempat, berlima dan ber ber berikutnya
Seketika aku lupa. Dandelionku mungkin sudah terbang melupakan ibunya, kasar pada bapaknya, menghujat guru2nya
Seketika aku lupa. Lampionku mungkin sudah meredup, tenggelam dalam arus deras, hancur dalam benturan kasar

Seketika aku lupa
Ada banyak hal yang memang harus kulupa dan kubiarkan sebagaimana mereka adanya.


-soe

Tentang apalahapalah namanya

Saya sebenernya gak pernah pantes ngetik caption macam ini. Saya merasa terlalu dungu dan bebal bikin caption sekaliber fase hidup. Paling banter caption saya isinya curhatan alay yang ngetiknya pun udah bikin kepala saya berasap kemudian terbakar atau terbakar kemudian berasap? Entahlah, terserah yang mana urutannya.
Seseorang menggelitik saya, mengejek tentang fase menjadi orang yang mengikuti arus, orang yang melakukan segala hal karena mempertimbangkan orang lain. Kenapa gak jadi diri sendiri melakukan semuanya tanpa peduli orang lain? Melawan arus? Bahkan mengendalikan arus? (Oke terdengar sedikit avatar. Sebelum negara api menyerang...) Kenapa saya sekarang berubah jadi pengecut?
Dulu (sesekali masih gini juga) saya pernah di fase itu, melawan arus. Gak pernah peduli dengan orang lain. Baik buruk parameternya berdasarkan diri sendiri. Salah ya hakimnya diri sendiri, jaksa penuntutnya diri sendiri, terdakwanya pun diri sendiri. Temen buluk saya pun sering menjuluki saya Kardiman. Fase 'gak peduli' atau bahasamu 'melawan arus' ini gak hanya dalam hal pemikiran, tapi penampilan, attitude dsb. (Tp saya gak begitu ekstrim - menurut saya)
Sebenernya sih ini bukan tentang pengecut atau nggak. Ini tentang dari sudut mana kamu memandang sesuatu (saya ngomong kodok)
Menjadi pengecutpun gak selamanya buruk. Kamu gak pernah tahu alasan kenapa si pengecut memilih untuk menjadi pengecut. Siapa tahu dia terpaksa jadi pengecut untuk menghidupi anak anaknya yang masih balita dan satu anak lagi yang masih diperut ibuknya.
Pun kamu sebenarnya tidak tahu saya sedang melawan arus, mengikuti arus, tenggelam, atau kinthir (duduk kenter). Apa kamu tahu saya sedang pura pura mengikuti arus, mencermati pola arus, menganalisis dan menyimpulkan kemungkinan kemungkinan nanti saya bisa menguasai arus sebelah mana? Apa kamu tahu saya sedang merencanakan kudeta/makar dan kemudian menguasai arus dengan jalan berpurapura ngekor serta menjadi penjilat dulu?

Yang jelas setiap orang punya cara masing masing dalam menentukan (ttp dengan segala keterbatasannya) jalan hidup masingmasing berikutnya
dan kita gak berhak memberi nilai, memberi label, memberi fatwa (pujangga - lague makku)
Tapi jika kamu masih penasaran. Sini saya jawab. Oke bagimu sekarang saya terlihat seperti yang 'kebanyakan' dan ikut arus tapi lihat saja nanti
Hidup disini bukan melulu tentang mengikuti atau menguasai arus. Bahkan nanti malaikat dalam kubur pun gak bakal tanyain itu. Yang penting jangan lupa tujuanmu hidup disini
Manusia punya keterbatasan dalam ketidak terbatasannya. Okelah mungkin kamu bisa dengan tak terbatas mempelajari ini itu, kamu bisa melakukan dan menjadi apapun yang kamu mau tanpa peduli kamu melawan arus atau apa. Tapi ingat pada keterbatasanmu, kita semua terbatas. Hidup kita ditakar, segala yang kita miliki bakal diambil lagi. Bahkan anggota tubuhmu pun bukan milikmu. Rohmu pun hanya bentuk emanasi
Jika tanganmu, kakimu, otakmu bukan milikmu. Lantas kenapa menghabiskan jatah hidupmu yang sudah ditakar itu dengan sibuk dan angkuh mempertahankan 'cara'mu 'arus'mu kemudian melukai banyak orang karena pilihanpilihanmu?
Kamu bisa nafas, bisa makan, bisa mikir, itu bentuk rohman dan rohim Allah. Arus yang kamu anggep bener itu bukan sematamata hasil pemikiranmu. Tuhanlah yang nunjukin itu ke kamu sebagai bentuk rohman dan rohimNya. Kalau kamu menggunakan pengetahuanmu itu untuk melawan, berontak bahkan menguasai orang lain yang kamu anggap ikut arus, secara gak sadar diamdiam kamu menuhankan dirimu sendiri dengan menganggap pengetahuan, kebenaran itu ya cuman versimu, datangnya dari kamu. Padahal versimu pun belum tentu benar.
Balik lagi, sebenernya semua ada porsinya, semua ada takarannya. Ada kalanya kita ikut arus, berhenti kalau lelah, belok kalo ada batu. Ada kalanya kita keluar dari arus, mungkin lewat cabang aliran air yang lain, tapi ya usahakan tanpa melukai siapapun.

Satu lagi, ada yang pernah bilang pada saya, patokan kita hidup didunia bukanlah tentang mengejar surga (semacam gak ikhlas, mengharap surga sebagai imbalan) atau itungitungan pahala (manusia itu banyak lalainya) tapi lebih ke "Membuat Tuhan terharu". Bagaimana kita bisa membuat Tuhan terharu sebelum membuat orang lain terharu?

-soe  

Minggu, 05 November 2017

tentang "kebijakan" baru

aku sedang emosi
aku tahu ini buruk dan aku harus segera berhenti
partikel partikel dalam otakku mulai protes akan 'kebijakan' baru
kusingkirkan tapi itu butuh waktu
sadar, yang aku butuhkan hanya kamu
aku ingin sekali lagi menikmati segelas es denganmu
kembali menghirup udara baru
membicarakan hal hal waras
menjadi waras dalam setiap ketidakwarasan
menelaah kepastian di setiap keragu-raguan
apa aku terlalu berlebihan?

-soe

aku tak muda lagi

pagi ini aku mengangkat kakiku
mengemasi sepatu, buku buku, kenangan masa lalu dalam kotak kaku
semua kumasukkan dalam tas ransel biru
aku tak tahu tempat mana yang akan kusinggahi nanti
pikiran pikiran busukku hanya inginkan pergi
mengayunkan kaki menjauhi segala resah hati
aku ingin bebas dari kamu, dari kalian
pilinan pilinan ini menyesakkan,ini sudah sangat keterlaluan
tapi kenapa aku harus terus berlarian dari keaadaan, kenyataan?
aku terdiam memandangi diri, aku sudah tak muda lagi
ini bukan waktunya untuk lari
semuanya harus aku hadapi.

-soe


Jumat, 15 September 2017

dibawah temaram lampu

tanganku ingin menuliskan sesuatu
tentang kamu
tapi logikaku kabur seperti pengecut
hatikupun tersenyum kecut
dan kini biarkan jari jariku penjadi penengah
antara hati dan logika

aku mencoba mengganggap segala sesuatu istimewa
apapun pasti menyimpan makna, acap dibalut kidung dan kisah
satu, dua, tiga, empat hingga belasan manusia lalu lalang di muka kedai kopi sore itu
aku memperhatikan mimik mereka satu persatu
kerutan kerutan yang sama.
garis garis bibir, dahi dan mata.
menyimpan sebuah kisah.
aku mencoba mentelaah, mencari cari kisah kisah dibalik garis kerutan
kebanyakan kisah karatan
kisah yang mereka anggap murahan dan berusaha keras mereka lupakan.
kubuka buku catatanku
mencatat apapun yang terlintas dikepalaku
tinta penaku mulai menggerutu
kucari pena lain dalam saku tasku
setelah kudapatkan penaku, mataku tertumbuk kembali pada buku catatanku
dan disanalah kamu
mengulurkan tanganmu, mengajakku menjauh

aku tak mau bercerita kisah tentang kita
karena setiap kisah punya akhir dengan caranya
dan aku tak mau memiliki kisah yang ada akhirnya
aku tak pernah ingin ada kisah yang berakhir di episode pertama
kalau boleh aku tak mau ada episode atau babak atau part atau apalah namanya
lantas apa namanya?
kisah tanpa titik koma?
atau kisah absurd yang tak ada ujungnya?
yang jelas dilakoni saja,
yang jelas disyukuri saja
toh semua da hikmahnya
semua ada ujungnya, pasti ada ujungnya

akhirnya, dibawah temaram lampu
aku menyerah pada muka teka teki yang membatu
aku membiarkan jarum panjang dan pendek berputar, berpisah, bersatu
aku hanya memandang acuh kalender berubah warna dari merah ke biru
satu persatu
muka muka penat menjejaliku dengan kisah mereka yang baru
nanti aku mau menulis buku
dan kupastikan tak satupun menyebut namamu

Rabu, 25 Januari 2017

???

Sang Maha Cinta membukakan mata
membalut luka luka
menghapus derita
mengajakku beranjak dari mendung yang menyakitkan
menolongku dari dahaga yang mencekik kerongkongan
membopongku dengan kedua tangan
membawaku pada alam yang berbeda
alam yang selama ini aku amat sangat buta
disanalah aku ingin berada selamanya.

duh, Sang Maha Cinta
betapa perih luka yang kuderita
betapa dalam borok dalam jiwa
betapa aku nelangsa
kedua tanganku merusak peta peta
yang telah Kau berikan sebelumnya
hanya karena satu atau dua urusan dunia
aku menggadaikan diadem dari Sang Maha Cinta
dan menukarnya dengan apapun yang fana

tanganku mencoba meraihmuMu gemetar
Oh, betapa lambatnya aku tersadar
terbuai dalam buaian gambar gambar
hingga aku lupa kepada siapa sebenarnya aku harus bersandar

-soe

Selasa, 24 Januari 2017

kaku

akhirnya kau pulang
saat petang mulai menjelang
tunggu tunggu ada sedikit yang kurang
kenapa matamu berkunang kunang
kenapa kehangatan tanganmu menghilang
 
aku tak bisa menyentuh ragamu
kau begitu terasa jauh
kau membawa sebagian diriku
menghilang perlahan dalam kabut semu
aku disini mematung, kaku !

-soe

Jumat, 20 Januari 2017

??

pagi ini bayangan itu datang lagi
melayang layang di dalam benak sanubari
memaksaku untuk berhenti
melangkahkan kaki,
menuju kamu yang perlahan pergi
menghilang dalam hiruk pikuk aktifitas pagi
yang sarat akan polusi

bayangan itu memukulku keras sekali
mengingatkanku akan kisah yang sekarang kulalui
tak membutuhkan kamu sebagai peran pengganti
atau sebagai cameo yang modar mandir, datang lalu pergi
jangankan sepatah atau dua patah kata berarti
bahakan siluetmu tak muncul sama sekali
kamu bentuk paten dari sebuah ilusi dan imajinasi

sudah sudah waktunya beranjak pergi
dari kisah kisah pengantar tidur kini dan nanti
Tuhan tak memerintahkanku untuk berhenti disini
memandangi ragamu yang sudah membeku, mati!
kubulatkan tekatku dalam hati
merelakanmu perlahan pergi
mengilang dalam dinginnya kabut pagi

-soe

Kamis, 05 Januari 2017

?

hari itu aku melihat banyak lampion dan beberapa lampu kota yang menghangatkan mata
cahaya oranye hangat membuat hati kecilku sedikit tersengat
entah kenapa ingatanku melayang pada tempat yang dulu pernah kusinggahi
aku sedang merindu, rindu akan beberapa bau
mungkin bau laut, airnya yang pasang dan surut serta ombaknya yang sahut menyahut
mungkin bau tanah, tanah pemakaman yang jalannya mulai kulupakan
mungkin bau kedamaian, yang dulu duluu sekali pernah dia janjikan
mungkin bau cat mengelupas dari stasuin tua yang sudah berubah rupa
mungkin bau manis hujan, diatas makadam yang kekeringan.
aku sedang merindu, rindu akan halaman halaman buku dalam memoriku
mungkin halaman tentang bapak, dan beratus ratus kisah bijak
mungkin halaman tentang ibu dan pangkuannya yang selalu menjadi rumahku
mungkin halaman tentang anak anak pelabuhan yang berjuang untuk sebuah kehidupan
mungkin halaman tentang dandelion layu karena kusimpan di dalam saku
mungkin halaman absurd yang sering kukumpulkan saat otakku sedang kusut
aku bertanya pada Tuhan, aku bertanya pada keadaan
aku bertanya makna kehidupan dan kenapa ada kerinduan
kenapa semuanya berputar putar dalam kepalaku kemudian bertabrakan
masih, masih tak jua kutemukan jawaban
lampion lampion berayun pelan
cahaya lampu kota mulai berhamburan tertutup dedaunan
aku mulai menggigil kedinginan
kurapatkan jaket dibadan
kususun fragmen fragmen yang mulai berantakan
kupasang potongan puzzle yang membingungkan
aku sadar aku takkan pernah menemukan jawaban
hanya saja aku harus menjalani semua dengan segenap keyakinan

-soe

Rabu, 04 Januari 2017

seperempat abadku

seperempat abad kumenunggu
kutajamkan indraku
kuhapali sekali bau busukmu
kupaham sekali suara bisingmu
dari jauh aku bisa segera tahu
sedikit sedikit kuhitung langkahku
bergerak menjauhimu
mungkin kau bukan penipu
mungkin kau bukan penjaja kisah klise dalam buku
tapi kau sumber segala rasa sakitku
kugumamkan pelan dalam pagi dingin yang beku
sudahlah, mungkin kau bukan seperempat abadku

-soe

tunggu aku

dimana akan kutemukan kamu
saat lilinku padam satu persatu
kucari kau dalam setiap halaman buku
namun yang ada hanya halaman beku
kucari kau dalam wajah asing setiap waktu
namun wajah wajah itu berubah membiru
dingin, sunyi, senyap, membatu
sudahlah, kunyalakan lampion baru
kuhirup bermacam macam bau
agar saat nanti kita bertemu
aku tak lagi merasa malu

-soe

bapak delapan tiga puluh

bapak delapan tiga puluh
setiap pagi menyapaku dari ringkihnya tubuh
bersembunyi dibalik becak dan menyeka peluh
hatiku terantuk batu dan mengaduh
mataku panas dan arogansiku pun runtuh
bapak delapan tiga puluh
terima kasih telah mengajarkanku
bahwa terik, lelah, dan hari yang berat bukanlah musuh
tolong simpan ini antara kau dan aku

-soe

Senin, 05 Desember 2016

kopi. lagi

Cukup segelas kopi
Bisa membawaku pergi
Berkunjung ke sebuah negeri
Atau duduk meresapi diri
Cukup segelas kopi
Mampu menampar keras kedua pipi
Membangunkanku dari mimpi
Supporter menjalani hari ini
Penghapus kemarin yang acap kusesali
Penghalau cemas akan apa yang ada esok hari
Cukup segelas kopi
Dan rasa syukur yang ditanam kuat dalam hati

-soe