belum selesai mata saya membaca tentang feminism, bagaimana wanita keluar dari apa yang disebut dengan 'kungkungan' dan 'opresi' dari lingkungan dan adat, saya dikejutkan oleh peristiwa jual dan menjual.
wanita, makhluk ciptaan Tuhan yang menurut saya sangatlah esensial.
saya mengatakan ini bukan kerena saya wanita,
wanita, entah kenapa selalu menjadi sorotan, obyek yang selalu menarik untuk dibicarakan
entah dalam hal yang dianggap tabu, atau hal yang berhubungan dengan keanggunan, kelemah lembutan, atau bahkan kepasrahan.
wanita, identik akan keindahan
tapi dengan memiliki aspek keindahan itu, bukan berarti mereka harus menjadi sebuah obyek pemuasan hasrat.
entah itu hasrat sebatas pandangan mata atau lebih dari itu.
saat ini banyak sekali pergerakan atau lembaga perlindungan yang berkoar koar tentang hak perlindungan wanita sebagai obyek eksploitasi dan opresi dari pihak tertentu.
tapi apakah mereka pernah meng cross check ulang.
ketika mereka berteriak teriak masalah itu, apakah mewakili semua suara wanita?
ironisnya.
ketika mulai banyak wanita yang sadar akan hak yang dimilikinya, perlindungan yang harus mereka
dapatkan, makin banyak pula wanita yang rela 'menjual' haknya. entah demi apa.
banyak wanita yang 'menjual' hak kaumnya.
saya sangat tercengang!
karena saya melihat dengan mata kepala saya sendiri.
lelucon apa lagi ini?
entahlah, saya tak mau berbicara lebih jauh
saya bukan orang yang cerdas, saya tidak mau menghakimii siapapun
bukannya saya egois
saya hanya menghormati perspektif orang lain.
hah?
menghargai perspektif?
perspektif akan kesesatan?
menghargai kesesatan?
ahh, jujur saya sangat terganggu ketika saya melihat kaum saya. kaum wanita (ini agak personal) dijadikan obyek. apalagi sebagai obyek tabu.
tapi saya bisa apa?
kaum saya sendirilah yang mau dan rela dijadikan obyek!
saya juga bingung harus menyalahkan siapa.
ah entahlah
peristiwa jual dan mejual ini, sedikit membuat otak saya lelah dan depresi.
saya sebenarnya peduli, sangat peduli.
tapi ketika yang saya pedulikan tidak mempedulikan diri mereka sendiri
bukankah itu percuma?
yayayayayayaa
saya sedang berbicara dengan tembok..
Jumat, 10 Oktober 2014
Selasa, 07 Oktober 2014
tujuh oktober
rasanya lama sekali saya tidak menulis tentang apa yang saya alami
yah, akhir2 ini saya mengalami masa yang lumayan menyita banyak fikiran
kata orang daging dan lemak mulai meninggalkan saya
hahaha ini efek pertambahan usia
saya kemarin sempat melakukan pemberontakan
yah, saya memberontak karena sistem mereka yang kapitalis
saya benci orang yang mempergunakan wewenang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan
well, teknisnya dia berhadapan dengan orang yang salah.
saya memberanikan diri untuk keluar dari zona aman dan memberontak
hahahaha
memang sudah mengalir di darah saya :)
luka baru bertengger di kaki saya
sedang luka saya yang lainnya belum kering
tidur tak nyenyak, makan pun tak enak
semoga cepat sembuh
tadi saya touring ke sebuah daerah yang amat sangat rawan.
off road
melawan panasnya matahari dan yang paling mendebarkan adalah bertarung dengan truk trailer yang ukurannya lumayan besar. dan mereka ada banyak, mereka berombongan bersama saudara saudara mereka
ada yang warna merah, hijau, biru, sampai yang catnya sudah mengelupas.
entah siapa yang mengembang biakkan kendaraan berbahaya itu.
saya agak tidak suka
hmmm
nampaknya musuh saya bertambah lagi.
mereka mulai menyusun rencana yang saya tidak tahu isinya apa
saya selalu berharap
saya bisa melawan mereka dan memegang teguh prinsip saya
musuh saya mulai melancarkan serangan
Allah, kuatkan saya :)
yah, akhir2 ini saya mengalami masa yang lumayan menyita banyak fikiran
kata orang daging dan lemak mulai meninggalkan saya
hahaha ini efek pertambahan usia
saya kemarin sempat melakukan pemberontakan
yah, saya memberontak karena sistem mereka yang kapitalis
saya benci orang yang mempergunakan wewenang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan
well, teknisnya dia berhadapan dengan orang yang salah.
saya memberanikan diri untuk keluar dari zona aman dan memberontak
hahahaha
memang sudah mengalir di darah saya :)
luka baru bertengger di kaki saya
sedang luka saya yang lainnya belum kering
tidur tak nyenyak, makan pun tak enak
semoga cepat sembuh
tadi saya touring ke sebuah daerah yang amat sangat rawan.
off road
melawan panasnya matahari dan yang paling mendebarkan adalah bertarung dengan truk trailer yang ukurannya lumayan besar. dan mereka ada banyak, mereka berombongan bersama saudara saudara mereka
ada yang warna merah, hijau, biru, sampai yang catnya sudah mengelupas.
entah siapa yang mengembang biakkan kendaraan berbahaya itu.
saya agak tidak suka
hmmm
nampaknya musuh saya bertambah lagi.
mereka mulai menyusun rencana yang saya tidak tahu isinya apa
saya selalu berharap
saya bisa melawan mereka dan memegang teguh prinsip saya
musuh saya mulai melancarkan serangan
Allah, kuatkan saya :)
Sabtu, 04 Oktober 2014
tentang pengecut
kamu, entah siapa kamu
berdiri dengan santainya dibawah bayangan
mengembangkan bibir licik, mata mengejek
tak malu kah?
setiap biji kata yang terlontar dari lidah luwes
semua permainan kata
bersembunyi dibelakang punggung kebohongan
berkoar koar tentang kejujuran
meneriakkan kebohongan, penipuan.
untuk apa?
hatimu, kurasa sudah tiada
perasaanmu, kurasa sudah meninggalkan alam fana
aku tidak mengerti
sungguh tak sedikitpun aku mengerti
apakah guna beton beton kebohonganmu
tak risih kah saat kau memanggil nama Tuhanmu?
ah, terserahlah
untitled (lupa part berapa)
malam ini, seperti dua malam sebelumnya
masih kusuguhkan setumpuk buku untukmu
kubuatkan secangkir coklat penghalau rindu
rindumu rinduku
alunan yang sama tetap menggelitik telinga kita
bunga, coklat dan senyuman
perpaduan yang memabukkan
biar sang angin yang menceritakan kisah kita
tetes hujan mengiringi setiap degup jantung kita
aku dan kamu
dua yang menjadi satu
masih kusuguhkan setumpuk buku untukmu
kubuatkan secangkir coklat penghalau rindu
rindumu rinduku
alunan yang sama tetap menggelitik telinga kita
bunga, coklat dan senyuman
perpaduan yang memabukkan
biar sang angin yang menceritakan kisah kita
tetes hujan mengiringi setiap degup jantung kita
aku dan kamu
dua yang menjadi satu
Ayah
rasanya lama,
lama sekali aku tak mencampur adukkan dinginnya angin dengan gelapnya bebatuan
lama sekali tak ku gumamkan namamu di setiap tetes air mataku
lama sekali tak ku kunjungi ujung kamar dengan pelukan hangat memori tentangmu
tidak, aku tidak lupa
entah berapa banyak insan yang menarikku menjauh darimu
aku merasa jauh, sangat jauh
terlampau jauh untuk memastikan kau baik baik saja
terlampau jauh untuk bisa melihat apakah selimut hangat masih melindungimu
terlampau jauh untuk bisa menghirup hangat cintamu
maafkan aku, maafkan aku
aku sudah menghukum diriku sendiri
tidak, jangan kau lihat
biar kutampar jiwa tak tahu diri ini
biar ku tendang dan ku jambak hati tak berperasaan ini
maafkan aku, maafkan aku.
lama sekali aku tak mencampur adukkan dinginnya angin dengan gelapnya bebatuan
lama sekali tak ku gumamkan namamu di setiap tetes air mataku
lama sekali tak ku kunjungi ujung kamar dengan pelukan hangat memori tentangmu
tidak, aku tidak lupa
entah berapa banyak insan yang menarikku menjauh darimu
aku merasa jauh, sangat jauh
terlampau jauh untuk memastikan kau baik baik saja
terlampau jauh untuk bisa melihat apakah selimut hangat masih melindungimu
terlampau jauh untuk bisa menghirup hangat cintamu
maafkan aku, maafkan aku
aku sudah menghukum diriku sendiri
tidak, jangan kau lihat
biar kutampar jiwa tak tahu diri ini
biar ku tendang dan ku jambak hati tak berperasaan ini
maafkan aku, maafkan aku.
Minggu, 07 September 2014
untuk anak kita
masihkah kau simpan
hangatnya pelukanmu di penghujung hari nan kelabu
masihkah kau simpan
senyum beracunmu yang mampu membekukan titik hujan
masihkah mereka disana bungaku?
masihkah ada sepotong kata biusmu
yang mampu menjinakkan singa kelaparan
masih cukup tajamkah tatapanmu
masih cukup dalamkah isi hatimu
kau hidupku
jangan sisakan untukku
jangan peluk aku malam ini
jangan, jangan bisikkan janji suci
sudah waktunya kita beranjak pergi
ini, disini
tepat diantara kita berdua.
dua tangan mungil merengek untuk digendong
bibir mungilnya memanggil namamu dan namaku
kaki kecilnya menjejaki jahatnya dunia ini
ya, berikanlah padanya bungaku
berikan padanya cintamu
suntikkan mili per mili kasihmu
dia adalah aku
dia adalah kamu
dia anak kita
hangatnya pelukanmu di penghujung hari nan kelabu
masihkah kau simpan
senyum beracunmu yang mampu membekukan titik hujan
masihkah mereka disana bungaku?
masihkah ada sepotong kata biusmu
yang mampu menjinakkan singa kelaparan
masih cukup tajamkah tatapanmu
masih cukup dalamkah isi hatimu
kau hidupku
jangan sisakan untukku
jangan peluk aku malam ini
jangan, jangan bisikkan janji suci
sudah waktunya kita beranjak pergi
ini, disini
tepat diantara kita berdua.
dua tangan mungil merengek untuk digendong
bibir mungilnya memanggil namamu dan namaku
kaki kecilnya menjejaki jahatnya dunia ini
ya, berikanlah padanya bungaku
berikan padanya cintamu
suntikkan mili per mili kasihmu
dia adalah aku
dia adalah kamu
dia anak kita
Jumat, 05 September 2014
enam september
lama tak bersua dengan bulan yang katanya ceria ini.
ah, itu hanya mitos
buktinya saya tetap terperangkap disini bersama manusia yang entah apa sebenarnya tujuan mereka.
saya tidak pernah tahu apa yang saya lakukan disini
apakah ini sebuah kepalsuan belaka
saya mulai bertanya tanya lagi.
kenapa saya selalu dihadapkan dengan orang orang yang memiliki banyak muka
saya lelah
otak saya mulai berontak
jiwa saya sudah merengek untuk pergi jauh dari ruangan biadab ini
saya ingin pergi tapi tidak tahu hendak pergi kemana
saya ingin berlari namun tidak pernh tahu apa yang saya kejar.
saya mulai bingung dengan apa yang terjadi disini
tapi saya jalani saja
saya yakin Tuhan mempunyai rencana yang lain untuk saya.
sekali lagi saya sangat rindu dengan masa lalu saya
ah, itu hanya mitos
buktinya saya tetap terperangkap disini bersama manusia yang entah apa sebenarnya tujuan mereka.
saya tidak pernah tahu apa yang saya lakukan disini
apakah ini sebuah kepalsuan belaka
saya mulai bertanya tanya lagi.
kenapa saya selalu dihadapkan dengan orang orang yang memiliki banyak muka
saya lelah
otak saya mulai berontak
jiwa saya sudah merengek untuk pergi jauh dari ruangan biadab ini
saya ingin pergi tapi tidak tahu hendak pergi kemana
saya ingin berlari namun tidak pernh tahu apa yang saya kejar.
saya mulai bingung dengan apa yang terjadi disini
tapi saya jalani saja
saya yakin Tuhan mempunyai rencana yang lain untuk saya.
sekali lagi saya sangat rindu dengan masa lalu saya
Langganan:
Postingan (Atom)